Skip to main content

Posts

Melancong Tanpa Banyak Cingcong

Libur semester tahun 2019 ini, gue dan teman gue yang udah gue kenal dari SD sampe kuliah ini pergi ke Malaysia. Namanya Anthony. Gue panggil dia Totod. Tadinya rencana mau pergi bareng temen - temen SMA lainnya, tapi karena satu dua perihal, jadinya yang pergi cuma gue dan dia berdua. As gay as its sounds like, trust me... Gue dan teman - teman SMA bisa bikin orang tua kita masing - masing mempertanyakan seksualitas kita. BUKAN, bukan karena pernah wik wik sama cowo. Tapi ya karena kita emang solid dan close aja gitu dari SD sampe SMA, sampe nyokap gue nanya "Lu gak gay kan?" Berhubung tiket promo, PP Jkt Malay cuma 650k, kita gak mau kelewatan promo itu kan. Belilah kita tiket itu. Tapi maklum tiket promo ya, kita dapet flight jam 5 pagi dan flight balik JKT jam 11 malem. Jam 3 pagi, gue sama Anthony udah sampe di Airport. Abis check in, kita duduk ngobrol bahas rencana berburu beruang betina di Malaysia. "Kali aja ada cabe - cabean berdua biar bisa temenin...
Recent posts

Prahara Mencari Cinta

Gimana caranya kita mau mencintai orang lain kalau kita tidak mencintai diri sendiri dulu?    Beberapa tahun lalu, ketika gue masih gundah gulana kesana kemari mencari makna cinta, gue mendapat pencerahan #tsah "Lu udah siap pacaran belom?" begitu tanya seseorang ke gue. Gara-gara kalimat itu, gue pun mikir lagi. Setelah ngobrol beberapa saat, gue baru disadarkan... Sebelum memulai cinta baru, kita harus selesai dulu dan berdamai dengan apapun yang sedang kita pergumulkan. Kita gak bisa bawa luka lama ke hubungan baru, yang ada kita cuma bakal ngerusak hubungan baru itu.  Tiap orang punya cara berbeda dalam proses melepas. Gue? Gue nulis.   Tulisan berikut merupakan proses letting go gue sekaligus intermezzo ketika penulis masih membereskan diri dan memantaskan diri mendapatkan cinta:   Letting Go   Apa yang bisa kulakukan ketika kepastian belum juga diberikan? Sinar mentari pun terasa dingin, akal pun hilang terhempas angin. Lalu bagaimana? Walau kau ken...

Lost in Semarang

  Di dunia per-DKVan ada acara yang namanya KMDGI (Kriyasana Mahasiswa Desain Grafis Indonesia). Acara ini gede banget soalnya acara ini ngumpulin anak-anak DKV diseluruh Indonesia. Kebetulan gue diajak sama senior gue buat jadi koordinator karya videonya DKV kampus gue. Persiapan acara ini beneran hectic banget. Team kita telat start, persiapan setahun harus dikejar sekitar 3 bulan. Dalam 3 bulan itu, kita harus udah selesain konsep karya instalasi dan karya video. Selama 2 bulan awal persiapan itu, kita selalu pulang ke rumah minimal jam 9 malam, antara rapat atau bikin karya, pokoknya anak-anak berkontribusi dengan caranya masing-masing biar kekejar dan kelar. H-1 bulan, gue dan beberapa temen gue: Mardhi, Albert, dan Feby, memutuskan buat survey ke Semarang tapi pulang hari biar gak bolos kelas. Albert bertugas bikin jadwal kegiatan, dan gue bertugas nyari tiket. Kita berangkat tanggal 16 Agustus malemnya, biar pas 17 Agustusnya dapet libur dan pulang malemnya biar sampe di...

Anak Disen

Kisah ini adalah sebuah prequel dari segala tulisan yang ada di blog ini. Sebagai salah satu dari ribuan bahkan mungkin puluhan ribu sarjana desain yang ada di Indonesia, gue merasa bahwa desain grafis itu adalah sebuah profesi yang sering sekali terdiskriminasi. Kadang job mereka sering kali kena jobdesc rangkap kayak misalkan: bisa mengedit video, bisa membuat strategi konten, bisa memotret, bisa animasi is a plus, bisa cuci gosok masak eh salah... Yah pokoknya you get the point there. Gue gak masalah sih kalau emang pada bisa dan pada mau, silahkan. Setiap orang punya tingkatan yang berbeda dalam menghadapi stress dan beban kerja, tapi menurut gue itu gak adil aja sih. Kalau mau ngedit video carilah video editor, kalau mau bikin strategi konten carilah content strategist, kalau mau foto cari fotografer, kalau mau nikah cari pasangan! Get my point? Seringkali perusahaan-perusahaan di Indonesia itu mencari sumber daya manusia yang bisa apa aja. Jack of all trades but master of none....

Gak Bisa Pulang!

Momen tahun baruan adalah momen yang selalu gue tunggu-tunggu. Kenapa? Karena setiap tahun baruan, gue biasanya selalu menghabiskan waktu bersama temen2 kampus, entah itu BBQ lah, apa lah, pokoknya kita selalu ngumpul. Tahun baruan juga menjadi momen di mana kita menentukan resolusi-resolusi kita di tahun berikutnya. "Tahun depan kita buka jasa foto yuk Ju" gue bilang gitu ke Junic. "Ayo aja men" kata dia. Kita tau bahwa udah saatnya kita juga usaha cari uang sendiri, dan what better time to plan it out than new year's eve? 31 Desember 2019, Junic ke rumah gue. Rencananya kita bakal nginep di rumah temen kita yang namanya Valdy. Rumahnya di Muara Karang. Gue dan Junic emang udah janjian mau ketemuan dulu sebelom ke rumah Valdy karena kita mau beli snacks dan petasan. Ya, petasan. What better way to celebrate new year than with the sound of blasting fireworks near your eardrums? Setelah beli semua persiapan, gue sama Junic akhirnya jalan ke rumah Valdy. "Gue...