Momen tahun baruan adalah momen yang selalu gue tunggu-tunggu. Kenapa? Karena setiap tahun baruan, gue biasanya selalu menghabiskan waktu bersama temen2 kampus, entah itu BBQ lah, apa lah, pokoknya kita selalu ngumpul. Tahun baruan juga menjadi momen di mana kita menentukan resolusi-resolusi kita di tahun berikutnya. "Tahun depan kita buka jasa foto yuk Ju" gue bilang gitu ke Junic. "Ayo aja men" kata dia. Kita tau bahwa udah saatnya kita juga usaha cari uang sendiri, dan what better time to plan it out than new year's eve?
31 Desember 2019, Junic ke rumah gue. Rencananya kita bakal nginep di rumah temen kita yang namanya Valdy. Rumahnya di Muara Karang. Gue dan Junic emang udah janjian mau ketemuan dulu sebelom ke rumah Valdy karena kita mau beli snacks dan petasan. Ya, petasan. What better way to celebrate new year than with the sound of blasting fireworks near your eardrums?
Setelah beli semua persiapan, gue sama Junic akhirnya jalan ke rumah Valdy. "Gue nitip laptop sama kamera ya di rumah lu. Besok pas pulang gue ambil" kata Junic ke gue. "Oke, kalau gitu gue nebeng lu aja ya ke Valdynya. Satu motor aja" kata gue." Abis Junic mengiyakan, kita berangkat lah ke rumah Valdy. Di jalan ke Muara Karang, cuaca mulai mendung dan kita takut kalau snack2 dan lain2nya keujanan ya ambyar lah sudah. Thank God sampe di Valdy gak hujan sama sekali.
Sesampainya di sana, kita disambut sama Valdy. Pas kita naro motor, masuk ke dalam rumah, BLAR hujan deres banget. Kasian si Vernando sama Axel yang masih di jalan beli2 makanan dan minuman. Setelah beberapa lama berbincang2 ria, akhirnya semua lengkap berkumpul. Ada gue, Junic, Vernando, Kevin, Derrick, Didit, dan Valdy si tuan rumah. Kita pesen sate taichan 100an tusuk (berbekal pengalaman kalo bakar2 sendiri tu pegel). Pokoknya malam itu kita makan minum sampe puas, hujan gak nyurutin semangat tahun baruan kita. Pas jam 12 teng, kita semua ngucapin selamat tahun baru bla bla bla formalitas formalitas, dan dimulailah peak event malam ini... Gue dan Junic ada beli beberapa petasan yang lumayan beragam. Kita beli petasan gasing, petasan lempar, dan banyak lagi. Ada satu yang paling gede yang paling bikin kita antusias banget adalah yang kayak meriam. Hati berkata pengen langsung nyalain yang gede, tapi kita tahan2 biar save the best for last. Kita naik ke atap rumah Valdy, nyalain beberapa petasan gasing dan yang kecil lainnya.
Ternyata walau basah, petasan masih bisa nyala ya hehehe maaf norak. Vernando being the bravest of us all, nyalain petasan yang nembak gitu sambil dia pegang. Beuh keren. Yang lain ketakutan semua... Blok. Gak mau kalah, gue juga ikutan. "Hati2 Ju, ada recoilnya" kata Vernando. Setelah gue ngangguk, dia memastikan lagi "pake tangan kiri ya, jadi kalau kenapa2 lu masih bisa c*li." Brengsek. Setelah memberi word of experience, dia nyalain petasan tembak itu dan gue ngarahin ke langit. Tiba2 Valdy teriak "KEBALIK JU!" BRENGSEK! Gue panik, gue liat lagi, masa sih? Ternyata gak kebalik, tapi Valdy salah liat. Blok. Gue lega. Tapi gue harusnya gak langsung lega karena pas gue udah merasa rileks... DUAR. Bener kata Vernando, recoilnya kenceng.
Abis drama perpetasan tembakan itu selesai, akhirnya kita nyalain the big one. Kita nyalain, kita kabur ke belakang, anak2 pada teriak "MUNDUR GOBLOK MUNDUR" Didit ngumpet di balik exhaust AC, Axel kencing di celana, Derrick nangis, Kevin ketawa psikopat, Valdy berdoa agar rumahnya gak kebakaran daaaannnn..... Pshyut... Ternyata gak semenarik yang diiklankan abangnya. Kecewa, akhirnya kita main lagi sama yang kecil2. Di sinilah kejadian bodoh dilakukan oleh Kevin. Dia nyalain petasan, pas mau lempar ke bawah, dia lempar kekencengan dan masuk ke rumah tetangga. Petasannya MELEDAK DI HALAMAN DEPAN TETANGGA. Blok. Abis kejadian itu, kita akhirnya memutuskan untuk bersih2 dan istirahat.
Paginya kita bangun, merasa refreshed setelah makan minum dan melakukan tindakan2 bodoh. Kita buka TV, niatnya mau nonton kartun kek apa gitu, tau2nya pas kita liat berita... "JAKARTA BANJIR DI BERBAGAI TITIK."
Mampus.
Mungkin inilah karma manusia karena nembak2in langit terus. Ortu gue suruh jangan pulang karena jalanan kegenang semua. Akses kemana-mana susah. Setelah pada nyari tau ke ortu masing2, beberapa temen2 kita bisa pulang. Setelah nunggu sampe sore, akhirnya semua bisa pulang. Semua kecuali... Gue.
Daerah rumah gue emang langganan banjir, but ini gak pernah separah ini. Jadinya bokap nyokap suruh gue nginep aja di rumah Junic kalau begitu. Dimulailah hidup nomaden seorang Juan Sebastian.
Dari 1 Januari sampe 6 Januari, gue dan keluarga jadi nomaden. Tanggal 1, gue nginep di rumah Junic berbekalkan kaos dan kolor Indomaret yang gue bolak balik side A side B. Yang kita lupakan adalah kamera dan laptop Junic ada di rumah gue... Kita hanya bisa pasrah. After the flood has ended, gue sekeluarga bersih2, dan hal pertama yang gue check adalah kamera dan laptop Junic. Sayangnya, kameranya kerendem. Begitu pula kamera gue.
Terkadang semesta memang lucu. Hari ini kita rencanakan usaha fotografi, hari berikutnya semua kamera kita kerendem dan rencana itu hilang tersapu banjir. Kadang dunia memang selucu itu.

Comments
Post a Comment