Skip to main content

Anak Disen

Kisah ini adalah sebuah prequel dari segala tulisan yang ada di blog ini.

Sebagai salah satu dari ribuan bahkan mungkin puluhan ribu sarjana desain yang ada di Indonesia, gue merasa bahwa desain grafis itu adalah sebuah profesi yang sering sekali terdiskriminasi. Kadang job mereka sering kali kena jobdesc rangkap kayak misalkan: bisa mengedit video, bisa membuat strategi konten, bisa memotret, bisa animasi is a plus, bisa cuci gosok masak eh salah... Yah pokoknya you get the point there. Gue gak masalah sih kalau emang pada bisa dan pada mau, silahkan. Setiap orang punya tingkatan yang berbeda dalam menghadapi stress dan beban kerja, tapi menurut gue itu gak adil aja sih. Kalau mau ngedit video carilah video editor, kalau mau bikin strategi konten carilah content strategist, kalau mau foto cari fotografer, kalau mau nikah cari pasangan! Get my point? Seringkali perusahaan-perusahaan di Indonesia itu mencari sumber daya manusia yang bisa apa aja. Jack of all trades but master of none. Mungkin itulah kenapa akhir-akhir ini beberapa kampus menghilangkan program peminatan dan mahasiswa jadi harus mempelajari segala aspek dalam dunia kreatif.

Jadi mahasiswa desain itu bukanlah sesuatu yang mudah. Pegang omongan gue. Kecuali lu jenius yang datang 1000 tahun sekali, ya gue gak bisa bilang apa-apa deh hehe. Gue yakin kalian yang kuliahnya di bidang seni pasti bakal ngalamin yang namanya stress. Asistensi, revisi, asistensi, revisi, asistensi, revisi, begitu terus sampe Indonesia dijajah orang utan. Satu yang gue tau, kalau kalian akhirnya karena satu dan lain hal memutuskan untuk kuliah desain (atau mungkin udah jadi anak desain), sadarilah bahwa hidup lu gak akan kekurangan stok hal bodoh. Berdasarkan pengalaman pribadi gue, kehidupan gue sebagai anak desain itu sangat menarik. Ketika temen-temen kalian yang anak ekonomi belajar ilmu finansial, kita anak desain belajar ngarsir-lantai-sial. Ketika temen-temen kalian yang anak teknik berantem pake kunci inggris, kita anak desain berantem pake kuas. Kalau agak barbar mungkin bisa dilempar kaleng cat. Ketika temen-temen kalian yang anak hukum belajar pidana, kita anak desain belajar kenapa patung David anu-nya kecil walau sampe sekarang gue gatau kenapa (mungkin preferensi).

Gak jarang juga kita anak desain di-cap dengan stereotip-stereotip kayak “ah anak desain mah kerjanya gambar doang.” Kita gak cuma gambar doang kok! Kita juga bikin garis lurus tanpa penggaris di kertas A3 hehe. Gue juga pernah denger stereotip “anak desain suka begadang.” Gue gatau anak desain suka begadang. Gue taunya biasa ide nongol jam 4.20 pagi dan itu adalah waktu yang lumrah bagi orang-orang hehe. Yang paling gue sebel adalah stereotip “anak desain nyentrik!” Gue baru tau anak desain di-cap nyentrik. Gue kira pake topi mangkok ayam, kaos kaki gambar donat, rambut warna pink dan biru yang dikepang adalah hal yang lumrah hehe.

Meninjau dari stereotip-stereotip tadi, gue yakin beberapa dari kalian pasti tau bahwa orang tua asia itu kadang sulit nerima fakta bahwa anaknya pengen masuk desain. Argumennya adalah bahwa gelar desain gak ada masa depannya, mau jadi apa, dan banyak hal-hal lain yang dipermasalahin sama mereka. Gue? Gue bersyukur kedua orang tua gue dukung-dukung aja, walaupun awalnya gue sempet mau jadi dokter (biar gak malu-maluin orang tua di depan keluarga besar). Gue sempet minder ketika tau anak-anak seumuran gue di keluarga besar gue udah set their path untuk jadi dokter. Berbekal ego dan rasa gak mau kalah, dulu gue memutuskan untuk ambil IPA pas sekolah. Kerjain sesuatu yang lu gak suka adalah hal paling menyeramkan buat gue. Terbebani oleh logaritma, senyawa kimia, mitokondria dan ilmu fisika membuat gue stress setengah mati. Suatu hari gue bilang ke bokap dan nyokap gue “aku gak mau jadi dokter kayaknya. Gak kuat belajarnya, kuliahnya juga mahal.” Yang bikin gue lega adalah mereka langsung bilang “kita gak maksa kamu buat jadi dokter kok, mau ambil seni juga gapapa, asalkan bisa tanggung jawab.” Sejak saat itu, nilai gue jeblok HAHAHA. Suatu hari, gue dan nyokap dipanggil kepala sekolah buat bahas penurunan nilai gue. Bu kepsek mempertanyakan penurunan nilai gue dan minta nyokap gue untuk awasin pembelajaran gue di rumah. Ketika udah kelar ceramah, gue cuma bilang “ya gimana ya Bu, saya mau masuk DKV, gak bakal kepake juga Bu.” Gue dan nyokap keluar, meninggalkan Bu Kepsek yang menganga tidak percaya hehehe. Itulah kisah awal bagaimana kehidupan bodoh gue sebagai anak desain selama 4 tahun dimulai.



Comments

Popular posts from this blog

Pandora Bergelora!

Dasar manusia gabut, padahal udah dibilangin dengan lembut, perginya tetep ngebut, datengnya gak disambut, dikagetin jadi takut, nyawa hampir ke rebut, jantung berkedut, nyali jadi ciut, muka kayak marmut... KANCUT! Namanya mahasiswa ya, pasti butuh refreshing. Semester 5 kemarin merupakan semester yang berat buat gue dan temen2. Gue dan Junic memutuskan untuk refreshing sejenak. Di sela2 sibuknya UAS, kita berencana untuk pergi main ke Pandora Kelapa Gading. Ngajak anak desain jalan itu kayak ngajak temen lu tawuran pake sebatang lidi tapi lawan lu pake celurit dan sobat sobat mengerikan lainnya. Setelah melewati proses seleksi, interview, uji emisi dan tes kelayakan, akhirnya kita dapet 9 orang. Terbentuklah Team Berani Mati FSRD Untar secara tidak sengaja.    Pasukan (Gak) Berani Mati Belakang (Dari Kiri ke Kanan) : Juber, Liam, Didit, Vernando, Derrick Depan (Dari Kiri ke Kanan) : Asep, Junic, Nando, Dado Disini gue bakal kenalin sekilas temen - temen ya...

Awal Mula

Nama gue Juan Sebastian . Biasa dipanggil Juan, Juber , atau nyet. Gue dikenal juga dengan nama Juan Beruang. Kenapa? Ya karena because. (Sebenernya males jelasin soalnya panjang). Intinya nama Beruang udah melekat banget sama gue. Itu udah jadi personal branding gue. Saat ini gue lagi berkuliah di suatu universitas yang namanya gue samarkan menjadi UNTAR aja.... Eh... Yaudahlah... Gue adalah mahasiswa DKV Semester 6 yang sedang bercokol dengan pusing - pusingnya menghadapi persiapan magang, tugas akhir, dan lomba. Saat ini gue sedang mendalami dunia periklanan (bukan perikanan) karena peminatan gue adalah Advertising . Di Advertising, biasa posisi kita from the start adalah Junior Art Director atau Junior Copywriter . Untuk saat ini, aim gue kedepan sih pengen jadi Copywriter. Tapi sebelum terjun ke dunia ini, gue yakin gue lagi di gembleng sama dosen - dosen gue supaya kedepannya gue dan kawan - kawan bisa sukses di dunia periklanan. Blog ini bakalan berisi seputar...

Taichan Senayan Bikin Kelabakan

Prolog : Malam kian menjelang, hati tidak riang, karena menghabiskan waktu bersama batang. Mencari makan keliling selatan menghindari rasa bosan, akhirnya sampe senayan buat makan taichan. Abis makan, tengkuk kesakitan, gigi gemeteran, tenggorokan kehausan, saling salah - salahan, siapa yang naro mecin duluan, tapi yaudah untung teman... JADI GINI... Jumat : Wacana diawali oleh Junic yang ngajak jalan di malam minggu. Gue skeptis. Gue kira dia bercanda soalnya kan dia udah pacaran, gue kira dia bakal malmingan kan. Gue tanya lah ke dia dengan agak ngegas, "Lah lu gak malmingan?" dan ternyata gue kembali di gas... Katanya "Lu nyuruh gue malmingan ke cibubur niak motor gitu?" Dan gue tersadar bahwa pacarnya Junic lagi pulang dan gk lagi di Jkt. Berbekalkan semangat 45, gue dan Junic mulai ngelobi orang - orang buat jalan di malam minggu kelabu hari itu. Kita akhirnya berhasil ajak Hadi, Axel, dan Vernando. Awalnya rencana makan di Ayam Goreng Borobudur di dek...